MEMPERKUAT KETAHANAN GLOBAL TERHADAP PENYAKIT MENULAR

MEMPERKUAT KETAHANAN GLOBAL TERHADAP PENYAKIT MENULAR

Rabu, 17 September 2014 - 11:25:19 WIB
0 | Kategori: Berita |Dibaca: 657

Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit disebabkan zoonosis,infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan manusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular. Demikian disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH dalam sambutannya di acara pembukaan Global Meeting on Infectious Diseases, di Hotel Shangri-La, Jakarta (20/8). Fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zoonosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerjasama regional dan global, papar Menkes. Peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor seperti perubahan iklim global, penggunaan pestisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia dan hewan serta perubahan gaya hidup. Belum lama ini dunia menghadapi penyebaran flu burung (H7N9 influenza) dan MERS CoV. Dan saat ini, dunia sedang menghadapi wabah Virus Ebola yang berasal dari kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinea, Liberia, Sierra Leone, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai Status Darurat Kesehatan Internasional oleh World Health Organization (WHO) pada 7 Agustus 2014. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku pemerintah. Tidak saja menjadi tanggung jawab Pemerintah, tetapi sangat memerlukan peran sektor Swasta, Akademisi, Praktisi, Organisasi Profesi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Sebagai tindak lanjut dari inisiatifGlobal Health Security Agenda (GHSA), pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari 37 negara. Diantaranya Argentina, Australia, Azerbaijan, Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Kanada, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgia, Jerman, Italia, Jepang, Kenya, Malaysia, Nepal, Belanda, Norwegia, Oman, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Afrika Selatan, dan Spanyol. Pada acara penyambutan satu malam sebelumnya, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, HR. Agung Laksono juga menyampaikan pengalaman pentingnya kerjasama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia. Melalui Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah mengimplementasikanpendekatan One Health. Hasil dari implementasi selama 2011 hingga 2013 berhasil mengurangi kejadian 6 jenispenyakit zoonosis yakni rabies, flu burung (H5N1), Antrax, Leptospirosis, Plague dan Brucellosis,ujar MenkoKesra. Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella Di Indonesia dikenal sebagai penyakit reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktivitas sapi. Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellosis. Sebagai Ketua Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis, Menko Kesra berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakatnya. Lebih lanjut Menteri Pertanian menyampaikan bahwa komitmen pencegahan dan pengendalian zoonosis telah berjalan dengan baik khususnya di dua sektor utama yaitu kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan. Sementara itu, perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, Dr. Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan Ketahanan Kesehatan Global lima tahun ke depan. Melalui GHSA, kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular dan epidemi. GHSA diharapkan dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespons wabah penyakit secara efektif, pungkas Dr. Carroll. GHSA dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB Genewa secara bersamaan pada tanggal 13 Februari 2014. PertemuanGHSA pertamadilaksanakan pada tanggal 5-6 Mei 2014diHelsinki,Finlandia. Pada awalnya, inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara-negara maju dengan melibatkan multi-stakeholders dan multi-sektoral. Selain itu juga dukung badan-badan dunia dibawah PBB diantaranya World Health Organisation (WHO), Food and Agriculture Organisation (FAO), dan World Organisation for Animal Health (OIE). Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packagesand Commitments yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi. Komitmen ini antara lain juga dimaksudkan untuk memperkuat implementasi International Health Regulation-IHR yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerjasama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan pada tahun 2014 ini



0 Komentar


Komentar


Komentar via facebook


Copyright © 2019. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara | Online: 2 | Hits: 491 / 282546