Medan, Kamis (27/08) – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) melalui Dinas Kesehatan bergerak cepat demi menyelamatkan masa depan generasi muda. Tidak tanggung-tanggung, sebuah strategi ganda yang memadukan intervensi spesifik kesehatan dan intervensi sensitif lingkungan langsung digeber secara masif di seluruh wilayah Sumut.
Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, menegaskan bahwa perang melawan stunting bukan lagi sekadar program kerja, melainkan prioritas mati-matian pembangunan daerah yang tidak bisa ditunda. Hal ini diungkapkan pada Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Sumatera di Provinsi Sumut Tahun 2026 di Hotel Grand Mercure, Kamis (27/8/2026).
Di lini depan intervensi spesifik medis, Dinkes Sumut mencatatkan pergerakan yang luar biasa sepanjang tahun 2026. Salah satu fokus utamanya adalah "menyerbu" sekolah-sekolah untuk memberikan tablet tambah darah kepada remaja putri. Hasilnya mengejutkan, dari target 815.520 remaja putri, sebanyak 636.637 orang (78%) sukses menjalani skrining kesehatan.
Tidak hanya remaja, para balita pun dipantau ketat. Sebanyak 696.183 balita atau sekitar 90% dari total populasi balita di Sumut sudah masuk dalam radar pemantauan pertumbuhan.
Pemberian ASI eksklusif untuk bayi di bawah enam bulan melesat hingga 83,3%, jauh melampaui target nasional yang hanya mematok angka 76%. Di sisi lain, pemenuhan gizi ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) juga sukses menyentuh angka 87% per Juni 2026.
Meski begitu, Dinkes Sumut mengaku masih memiliki PR besar pada sektor pemeriksaan kehamilan (ANC) minimal 6 kali yang baru mencapai 20,4% dari target 48% di triwulan II ini.
Perang melawan stunting di Sumut ternyata tidak hanya terjadi di dalam fasilitas kesehatan. Lewat intervensi sensitif, Pemprov Sumut berupaya membenahi infrastruktur dasar keluarga seperti pemenuhan gizi dan gaya hidup sehat.
Sepanjang tahun 2026, sebanyak 348 unit jamban sehat dibangun serentak di 10 kabupaten/kota. Sebanyak 840 unit rumah tidak layak huni (RTLH) di 29 kabupaten/kota dibedah total selama periode 2025-2026 agar anak-anak Sumut tumbuh di lingkungan yang higienis.
Kondisi stunting di Sumut memang memerlukan perhatian ekstra. Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan SDM Setwapres, Eddy Cahyono Sugiharto, mengungkapkan fakta bahwa prevalensi stunting Sumut berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) berada di angka 22%. Angka ini masih berada sedikit di atas rata-rata nasional yang bertengger di 19,8%.
Merespons alarm tersebut, sebanyak 154 kepala daerah se-Sumatera langsung dikumpulkan di Medan. Pertemuan skala besar ini diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama yang sakral, baik secara luring maupun daring, untuk memastikan program penurunan stunting berubah menjadi aksi nyata di lapangan.
Dinkes Sumut bersama Pemprov Sumut optimistis, dengan tercapainya berbagai target kesehatan dan komitmen total para kepala daerah, angka stunting 22% tersebut akan segera terpangkas habis demi menyongsong target besar Indonesia Emas 2045.

